PENDIDIKAN SASTRA INDONESIA DAN BAHASA DI KELAS RENDAH
PENDIDIKAN
SASTRA INDONESIA DAN BAHASA DI KELAS RENDAH

DOSEN PENGAMPUH
INEKE EKAWATI
S.pd,, M.pd
DI SUSUN
OLEH :
|
NAMA |
: |
AKUILA DORKAS BONOY |
|
NIM |
: |
2022014134030 |
|
PRODI |
: |
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH |
PROGRAM STUDI GURU
SEKOLAH DASAR
JURUSAN ILMU
PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN
DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
CENDERAWASIH
TAHUN 2023
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur Penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa
atas rahmat-Nya yang telah dilimpahkan kepada Penulis sehingga Penulis dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul “Pentingnya Pembelajaran Sastra” yang
merupakan salah satu tugas terstruktur Bahasa Indonesia pada semester satu.
Dalam makalah ini kami membahas mengenai bagaimana
mengidentifikasikan masalah tulisan, latar belakang, tujuan dan manfaat
penulisan, mengindentifikasi kerangka teori, formulasi isi tulisan dan
bagaimana membuat kesimpulan dan saran dalam Ragam Bahasa.
Dalam menyelesaikan makalah ini, Penulis telah banyak
mendapat bantuan dan masukan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam
kesempatan ini Penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada :
Terimakasih Dosen mata kuliah Bahasa Indonesia yang telah
memberikan tugas mengenai “Pentingnya Pembelajaran Sastra” ini sehingga
pengetahuan Penulis dalam penulisan makalah ini makin bertambah dan hal itu
sangat bermanfaat bagi penyusunan skripsi kami di kemudian hari.
Pihak-pihak yang tidak dapat Penulis sebutkan satu persatu
yang telah turut membantu sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik
dalam waktu yang tepat.
Penulis menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih jauh
dari kesempurnaan, namun demikian telah memberikan manfaat bagi Penulis. Akhir
kata Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Kritik dan
saran yang bersifat menbangun akan Penulis terima dengan senang hati.
BIAK, 05 APRIL 2023
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR……………………………………………………………………………………………………………………….
i
DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………………………………………………………..ii
BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………………………………………………….…………………….1
A.
Latar Belakang………………………………………………………………………………………………………………..
1
B.
Rumusan Masalah ………………………………………………………………………………………………………….
1
C.
Tujuan …………………………………………………………………………………………………………………………….1
D.
Manfaat……………………………………………………………………………………………………………………………2
E.
Metode…………………………………………………………………………………………………………………………….2
BAB II LANDASAN TEORI ………………………………………………………………………………………………………………3
A.
Pengertian Sastra …………………………………………….……………………………………………………………..3
B.
Sejarah Singkat Sastra Indonesia……………………………………………………………………………………..3
C.
Jenis-jenis karya sastra di Indonesia………………………………………………………………………………..6
BAB III PEMBAHASAN………………………………………………………………………………………………………………….8
A.
Pentingnya Pembelajaran Sastra……………………………………………………………………………………8
B.
Tujuan Pembelajaran Sastra………………………………………………………………………………………….
9
C.
Realitas Sastra Indonesia dalam Masyarakat
Indonesia Kini…………………………………………10
D.
Pengajaran Sastra…………………………………………………………………………………………………………12
BAB IV PENUTUP
A.
Kesimpulan………………………………………………………………………………………………………………….
15
B.
Saran……………………………………………………………………………………………………………………………
15
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………………………………………………………17
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Belakangan ini sastra dianggap
kurang penting dan kurang berperan dalam masyarakat Indonesia hari ini. Hal ini
terjadi karena masyarakat kita saat ini sedang mengarah ke masyarakat industri
sehingga konsep-konsep yang berkaitan dengan sains, teknologi, dan kebutuhan
fisik dianggap lebih penting dan mendesak untuk digapai. Ulasan ini diharapkan
dapat menggugah kembali kesadaran kita untuk menempatkan pengajaran sastra
Indonesia pada tempat yang layak dan sejajar dengan mata ajar lainnya.
A.
Rumusan Masalah
1.
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini,ialah
sebagai berikut:
2.
Bagaimana pentingnya pembelajaran sastra
3.
Bagaimana
realitas Sastra Indonesia dalam masyarakat Indonesia pada masa kini
4.
Bagaimana pengajaran sastra di lingkup sekolah
B.
Tujuan
1.
Adapun tujuan yang ingin dicapai ialah:
2.
Mengetahui apa itu sastra
3.
Mengetahui bagaimana realitas sastra indonesia dalam
masyarakat Indonesia pada masa kini
4.
Mengetahui bagaimana pembelajaran sastra di
lingkungan sekolah
C.
Manfaat
Fungsi kemanfaatan dari makalah ini ialah:
Sebagai bahan referensi untuk bahan pembelajaran bagi masyarakat Untuk
mengetahui bagaimana pandangan masyarakat terhadap sastra Memberikan pilihan
metode baru bagi pengajar dalam menyampaikan materi.
D.
Metode
Dalam penyusunan makalah ini, penulis
menggunakan metode kajian pustaka, yaitu dengan mempelajari dan mengumpulkan
data dan informasi baik dari buku maupun dari internet.
BAB II LANDASAN TEORI
A.
Pengertian Sastra
Banyak sekali para ahli yang mendefinisikan pengertian
mengenai sastra, Mursal Ensten mendefinisikan “Sastra atau Kesusastraan adalah
pengungkapan dari fakta artistik dan imajinatif sebagai manifestasi kehidupan
manusia (dan masyarakat) melalui bahasa sebagai medium dan memiliki efek yang
positif terhadap kehidupan manusia (kemanusiaan).” (1978:9). Di sisi lain Semi
mengungkapkan “Sastra adalah suatu
bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan
kehidupan menggunakan bahasa sebagai mediumnya.” (1988:8). Panuti Sudjiman
mendefinisikan “Sastra sebagai karya lisan atau tulisan yang memiliki berbagai
ciri keunggulan seperti keorisinilan, keartistikan, keindahan dalam bagian isi,
dan ungkapannya.” (1986:68). Plato dan Aristoteles mempunyai definisi
tersendiri mengenai sastra, menurut Plato “Sastra adalah hasil peniruan atau
gambaran dari kenyataan (mimesis). Sebuah karya sastra harus merupakan peneladanan
alam semesta dan sekaligus merupakan model kenyataan. Oleh karena itu, nilai
sastra semakin rendah dan jauh dari dunia ide.” Sastra sebagai kegiatan lainnya
melalui agama, ilmu pengetahuan dan filsafat.” diungkapkan oleh Aristoteles.
Menurut Engleton sendiri (1988:4), sastra yang disebutnya adalah “Karya tulisan
yang halus” (belle letters) adalah karya yang mencatatkan bentuk bahasa harian
dalam berbagai cara dengan bahasa yang dipadatkan, didalamkan, dibelitkan,
dipanjang tipiskan dan diterbitkan, dijadikan ganjil” Dari beberapa definisi di
atas, maka dapat didefinisikansastra merupakan suatu bentuk karya seni baik
berupa lisan maupun tulisan yang berisi nilai-nilai dan unsur tertentu lainnya
yang bersifat imaginatif.
B.
Sejarah Singkat Sastra Indonesia
Awal Periode Sastra
Bentuk-bentuk karya sastra yang kita lihat dan kita kenal
dimulai dari periode Pujangga Baru yang banyak dipengaruhi oleh sastra Eropa.
Pengaruh itu sangat terasa terutama pada karya-karya Chairil Anwar yang
dianggap kontroversial pada waktu itu. Kenyataan tersebut makin diperkuat akan
pendek jarak waktu antara angkatan satu dengan angkatan berikutnya. Misalnya
ada Angkatan 1966 setelah Angkatan 1945. Sangat pendek, hanya berjarak 11
tahun. Perkembangan sepesat ini hanya terjadi apabila sastrawan-sastrawan
Indonesia terpengaruh oleh perkembangan sastra dunia. Dengan demikian,
pengertian sastra Indonesia adalah bentuk pengungkapan gagasan, pikiran, dan
pengucapan sastra orang Indonesia, menggunakan bahasa Indonesia, baik sastra
itu dipengaruhi oleh sastra asing atau tidak.
1.
Perkembangan Sastra Indonesia
Sejarah perkembangan sastra Indonesia dimulai pada abad
ke-20 yang diawali oleh kehadiran karya-karya dari pengarang Balai Pustaka.
Adapun karya-karya yang lahir sebelum periode tersebut digolongkan ke dalam
sastra Melayu. Perkembangan sastra Indonesia secara garis besar terbagi dalam
angkatan-angkatan berikut.
1. Angkatan Balai Pustaka (tahun 1920-an)
Pada tahun 1908, kolonial Belanda mendirikan Komisi Bacaan Rakyat (Commissie de
Volkslectur) yang bertugas menyediakan
bahan-bahan bacaan bagi rakyat Indonesia. Pada tahun 1917, nama komisi tersebut
berubah menjadi /Balai Pustaka/. Dengan berdirinya penerbitan tersebut telah
mendorong para penulis Indonesia untuk berkarya.
·
Nama-nama pengarang dan karyanya pada periode
awal ini adalah sebagai berikut.
·
Merari Siregar dengan karya Azab dan Sengsara
·
Marah Rusli dengan karya Siti Nurbaya
·
Abdul Musi dengan karya Salah Asuhan
·
Sutan Takdir Alisyahbana Tak Putus Dirundung
Malang, dan lain-lain
Tema ceritapada periode ini berkisar pada peristiwa sosial,
kehidupanadat-istiadat, kehidupan beragama, dan peristiwa kehidupan
masyarakat.Karya waktu itu cenderung berbentuk roman.
2. Angkatan Pujangga Baru (1933-1942)
Angkatan ini dipelopori oleh empat serangkai. Yaitu Sutan
TakdirAlisyahbana, Armijn Pane, Sanusi Pane, dan Amir Hamzah.Karya sastra yang
muncul sebagian besar berbentuk sajak, cerpen, novel, roman, dan drama. Karya
padaangkatan ini antara lain sebagai berikut.
·
Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisyahbana
·
Belenggu karya Armijn Pane
·
Katak Hendak Jadi Lembu karya Nur Sura Iskandar,
dan lain-lain
3. Angkatan 45
Ciri khas karyasastra angkatan 45 lebih bebas, namun
ditekankan pada isinya. Kalimat-kalimatnya pendek dan tidak menggunakan bahasa
yang klise.Isinya pun bersifat realisme.
Pengarang-pengarang yang terkenal pada masa ini antara lain
Idrus,Chairil Anwar, Rosihan Anwar, Usmar Ismail, dan lain-lain. Karya yang
muncul antara lain Atheis, Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma, danlain-lain.
4, Angkatan 66
Angkatan 66 diperkenalkan oleh HB Jassin dalam bukunya yang
berjudulAngkatan 66. Angkatan ini muncul berbarengan dengan adanya
kekacauanpolitikakibat adanyapemberontakan G-30S/PKI. Karya-karya yang
diterbitkan antara lain sebagai berikut.
·
Pagar Kawat Berduri karya Toha Mochtar
·
Tirani karya Taufik Ismail
·
Hati yang Damai karya N.H. Dini
·
Malam Jahanam karya Motinggo Boesje, dan
lain-lain.
·
Karya Sastra Kontemporer
Karya sastra kontemporer berawal padatahun 1970-an. Pada
waktu itu situasi politik sudah mereda. Situasisosial dan ekonomi mulai
menunjukkan perbaikan sehingga berpengaruhbesar terhadap perkembangan
sektor-sektor kebudayaan. Kebebasan berekspresi mulai tumbuh dan berkembang
sehingga melahirkan berbagai gerakanpembaruan dalam bidang sastra
Gerakan pembaruan dalam bidang sastra ini terutama ditandai
oleh munculnya puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri yang mengutamakan bunyi
daripada kekuatan maknakata. Sampai saat ini, sastra Indonesia semakin
berkembang denganlahirnya pengarang-pengarang muda dan karyanya.
2.
Jenis-jenis karya sastra di Indonesia
Karya sastra di Indonesia berdasarkan bentuknya dibagi
menjadi dua macam yaitu prosa dan puisi. Lalu prosa dan puisi ini dibagi lagi
menjadi dua kategori yaitu prosa dan puisi lama dan modern. Ciri-ciri sastra
lama:
·
Bersifat statis
·
Tema ceritanya istana sentris
·
Nama pengarang tidak disebutkan atau disebut
juga anonim
·
Menggunakan bahasa melayu kuno yang penuh dengan
pepatah serta ungkapan yang panjang-panjang dan klise
·
Banyak yang berisi hal-hal yang fantastis
·
(Diana Leroy, 2003:45)
·
Contoh sastra lama: fabel, sage, syair,
gurindam, dll.
Dalam sastra modern karya sastra tersebut telah dipengaruhi
oleh karya sastra asing sehingga sudah tidak asli lagi. Dan dalam karya sastra
modern pengarang sudah dikenal oleh masyarakat luas, bahasanya sudah tidak
klise dan bersifat dinamis, temanya pun bersifat rasional dan bersifat
modern/tidak kedaerahan. Contoh sastra modern: novel, biografi, cerpen, drama,
dll.
BAB III PEMBAHASAN
Pengajaran bahasa dan sastra Indonesia di berbagai jenjang
pendidikan sering diaggap kurang penting oleh para guru, apalagi pada guru yang
pengetahuan dan apresiasi sastranya rendah. Hal ini menyebabkan mata pelajaran
yang idealnya menarik dan besar sekali manfaatnya bagi para siswa ini disajikan
hanya sekedar memenuhi tuntutan kurikulum dan cenderung kurang mendapat tempat
di hati siswa. Bila kita kaji secara mendalam, tujuan pengajaran bahasa dan
sastra Indonesia di sekolah dimaksudkan untuk menumbuhkan keterampilan, rasa
cinta, dan penghargaan para siswa terhadap bahasa dan sastra Indonesia sebagai
bagian dari budaya warisan leluhur. Dengan demikian, tugas guru bahasa dan
sastra Indonesia tidak hanya memberi pengetahuan saja, tetapi juga keterampilan
dan menanamkan rasa cinta, baik melalui kegiatan di dalam kelas ataupun di luar
kelas.
1.
Pentingnya pembelajaran sastra
Dosen Universitas
Singapura, Dr. Azhar Ibrahim Alwee mengatakan, pembelajaran sastra sangat
penting dalam pembangunan karena akan mendorong masyarakat bisa bersikap lebih
kritis. Pembelajaran sastra akan mengacu kepada kesadaran sosial yang kritis,
sehingga pembangunan akan menjadi terarah, kata Azhar, saat menjadi pembicara
dalam seminar internasional, di Palembang.
Seminar
internasional bahasa, sastra dan budaya digelar di Palembang, 1-2 Juni 2010
dilaksanakan Forkibastra Balai Bahasa Sumsel. Menurut Azhar, makna dari sastra
dapat mengarahkan kepada pemberdayaan yang bukan saja membuat orang menjadi
tegas, tetapi juga mampu untuk menghadapi tantangan di masa mendatang.
Identitas manusia harus tegas dan bebas dari ketergantungan, dan itu bisa
didapat dalam pelajaran sastra, ujarnya.
Dia
menegaskan bahwa sastra merupakan dokumen kebudayaan yang tidak boleh dianggap
bersaingan dengan politik sekarang ini. Kebersamaan dalam globalisasi
mengundang gagasan multibudaya, dengan menempatkan identitas politik kelompok
masing-masing sebagai hak kemanusiaan, kata dia lagi. Karena itu, pihaknya
mengusulkan kurikulum multibudaya yang dapat diterapkan dalam pembelajaran
sastra. Kesemuanya itu, tidak lain bertujuan untuk menjadikan pemberdayaan
identitas budaya lokal yang ampuh, ujar Azhar. Dia juga berpendapat, umumnya
pembelajaran sastra memerlukan nafas baru, sehingga perlu melakukan pendekatan dalam
pengajaran.
2.
Tujuan Pembelajaran Sastra
Tujuan umum pembelajaran sastra merupakan bagian dari
tujuan penyelenggaraan pendidikan
nasional yaitu mewujudkan suasana dan proses pembelajaran agar peserta didik
secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Tujuan pembelajaran sastra di sekolah terkait pada tiga
tujuan khusus di bawah ini. Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan
kemampuan intelektual, serta kematangan
emosional dan sosial Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas
wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan
berbahasa Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya
dan intelektual manusia Indonesia. Pengajaran sastra membawa siswa pada ranah
produktif dan apresiatif. Sastra adalah
sistem tanda karya seni yang bermediakan
bahasa. Pencipataan karya sastra merupakan keterampilan dan kecerdasan
intelektual dan imajinatif. Karya sastra hadir untuk dibaca dan dinikmati, dimanfaatkan untuk
mengembangkan wawasan kehidupan.
Pembelajaran
sastra menurut panduan penerapan KTSP perlu menekankan pada kenyataan bahwa sastra merupakan seni yang dapat diproduksi
dan diapresiasi sehingga pembelajaran hendaknya bersifat produktif-apresiatif.
Konsekuensinya, pengembangan materi pembelajaran, teknik, tujuan, dan arah
pembelajaran harus menekankan pada kegiatan apresiati.
Pengembangan
kegiatan pembelajaran apresiatif merupakan usaha untuk membentuk pribadi
imajinatif yaitu pribadi yang selalu menunjukkan hasil belajarnya melalui
aktivitas mengeksplorasi ide-ide baru, menciptakan tata artistik baru,
mewujudkan produk baru, membangun susunan baru, memecahkan masalah dengan cara-cara baru, dan
merefleksikan kegiatan apresiasi dalam bentuk karya-karya yang unik.
Potensi individu
seperti itu menurut para ahli pendidikan
akan berkembang jika mendapat dukungan kultur lingkungan yang menghargai
percobaan, melakukan langkah-langkah spekulatif, fokus pada pengembangan
ide-ide baru, bahkan melakukan hal yang tidak dapat dilakukan orang sebelumnya.
Semua potensi dikembangkan melalui pengulangan yang variatif sehingga terbentuk
mutu keterampilan yang terasah.
3.
Realitas Sastra Indonesia dalam Masyarakat
Indonesia Kini
Sastra dianggap kurang penting dan kurang berperan dalam
masyarakat Indonesia hari ini. Hal ini terjadi karena masyarakat kita saat ini sedang
mengarah ke masyarakat industri sehingga konsep-konsep yang berkaitan dengan
sains, teknologi, dan kebutuhan fisik dianggap lebih penting dan mendesak untuk
digapai. Sedikitnya perhatian anggota masyarakat terhadap kegiatan kesastraan
dan kebudayaan pada umumnya merupakan salah satu indikasi adanya kecenderungan
tersebut. Kegiatan kesastraan dan kebudayaan dianggap hanya memberi manfaat
nonmaterial, batiniah, sehingga dianggap kurang mendesak dan masih dapat
ditunda.
Kondisi
di atas juga terjadi dalam dunia pendidikan. Perhatian para murid dan pengelola
sekolah terhadap mata pelajaran yang berkaitan dengan sains, teknologi, dan
kebutuhan fisik jauh lebih besar bila dibandingkan dengan mata pelajaran
kemanusiaan. Ketiadaan laboratorium bahasa, sanggar seni, buku bacaan
kesastraan, dan berbagai fasilitas lain yang diperlukan dalam pengajaran
merupakan bukti konkret adanya ketidakperhatian tersebut.
Bila kita
menganggap pendidikan merupakan upaya lain untuk memanusiakan manusia, perhatian
terhadap semua materi ajar di sekolah haruslah seimbang. Seorang guru dapat
melakukan hal-hal seperti dibawah ini untuk mewujudkan pembelajaran sastra di
sekolah sehingga mata pelajaran ini menjadi menarik dan mendapat tempat di hati
siswa.
Langkah awal yang perlu dilakukan adalah
meyakinkan siswa bahwa pengajaran sastra tidak hanya menawarkan hiburan sesaat,
tetapi juga akan memberi berbagai manfaat lain bagi siswa. Penikmatan yang
apresiatif terhadap puisi, prosa fiksi, drama dalam berbagai genre akan
membuktikan kemanfaatan tersebut pada siswa.
Selanjutnya, guru pun harus berusaha mengubah teknik
pembelajaran sastra di sekolah. Selama ini pengajaran sastra dan juga bahasa
Indonesia lebih diarahkan pada aspek sejarah dan pengetahuan sehingga siswa
dipacu untuk menghafal, bukan untuk mengahayati karya yang diajarkan.
Kegiatan
apresiasi sastra tidak hanya diajarkan dalam bentuk pembacaan karya sastra oleh
siswa. Kegiatan ini dapat juga diwujudkan dalam berbagai bentuk kegiatan dengan
berbagai teknik pembelajaran. Kegiatan deklamasi, lomba penulisan puisi,
musikalisasi puisi, dramatisasi puisi, mendongeng, pembuatan sinopsis, bermain
peran, penulisan kritik dan esei, dan berbagai kegiatan lain dapat dimanfaatkan
untuk menumbuhkan apresiasi sastra pada siswa. Berbagai kegiatan tersebut akan
menumbuhkan penghayatan, pencintaan, dan penghargaan yang relatif baik pada
para siswa terhadap mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia.
Hal lain
yang juga perlu dipikirkan saat ini adalah pemanfaatan dan pengadaan buku/
bacaan kesastraan di sekolah. Pemerintah, di satu sisi, telah berusaha
melengkapi buku bacaan untuk para siswa melalui Proyek Pengadaan Buku Bacaan.
Meskipun bahan yang dikirimkan ke sekolah belum memadai, guru seharusnya dapat
memanfaatkan sarana yang ada itu untuk memancing kreativitas membaca dan
mencipta pada siswa. Di samping itu, guru dan pihak sekolah harus juga berusaha
membeli bacaan lain, seperti surat kabar, kumpulan puisi, dan berbagai media
lain yang harganya relatif murah.
Kendala
lain yang tampaknya juga perlu dicarikan pemecahannya adalah sistem evaluasi
pengajaran sastra dan bahasa yang cenderung ke aspek kognitif/pengetahuan.
Selama ini, ulangan semester dan ebtanas memang lebih terfokus pada evalusi
pengetahuan para siswa. Kalau mau guru dapat melakukan evaluasi yang mengarah
ke penumbuhan keterampilan dan apresiasi masih dapat dilaksanakan di berbagai
kesempatan lain di luar evaluasi di atas. Evaluasi keterampilan dan apresiasi
siswa ini dapat saja dilakukan melalui penugasan di rumah, kegiatan
ekstrakurikuler, dan berbagai kegiatan lain. Sekarang tinggal lagi mau atau
tidakkah guru bahasa/guru kelas memanfaatkan kesempatan itu untuk evaluasi yang
tidak hanya mengagungkan aspek hafalan pada siswa.
Terakhir,
guru bahasa dan pihak sekolah tampaknya juga perlu mengaktifkan kembali
sanggar-sanggar siswa di sekolah. Kegiatan sanggar di luar jam belajar secara
langsung pasti akan berpengaruh terhadap penumbuhan keterampilan, kecintaan,
penghayatan, dan penghargaan yang positif terhadap sastra dan bahasa Indonesia
pada siswa. Bagaimanapun kita tetap bersepakat bahwa penumbuhan kreativitas,
penyaluran bakat/minat, dan pembinaan moral siswa tidak hanya dilaksanakan pada
saat-saat belajar secara formal di dalam kelas, tetapi juga melalui kegiatan
ekstrakurikuler di luar jam belajar.
4.
Pengajaran Sastra
Pengajaran sastra di SMP maupun SMA bukan berupa program
pengetahuan budaya. Sastra Indonesia hanya semata-mata menumpang pada
pengajaran bahasa Indonesia dan diberikan hanya selama 2-3 jam per minggu.
Pengajaran
sastra di sini lebih banyak kegiatannya untuk mempelajari ragam bahasa, di
sisi-sisi ragam bahasa lainnya. Hal ini terlihat bahwa pembobotan beban
materinya hanya seperenam dari seluruh materi bidang studi/mata pelajaran
Bahasa Indonesia, dengan nama pokok bahasan Apresiasi Bahasa dan Sastra
Indonesia. Dengan pemberian nama ini sudah terlihat terjadinya penyempitan
kedudukan sastra.
Dalam pembelajaran sastra usakan siswa diminta untuk mencoba
membuat pantun sendiri dengan kreatifitas mereka masing-masing dengan mengambil
tema dari Pendidikan Moral, yaitu pantun didaktis yang berisi ajakan-ajakan
atau pesan-pesan moral. Hal serupa juga bisa diterapkan untuk pelajaran drama,
dimana guru Bahasa Indonesia bekerjasama dengan guru sejarah. Siswa bisa diberi
instruksi tentang aspek-aspek teknis dari drama dan kemudian diminta untuk
membuat pertunjukan drama dengan mengambil tema dari pelajaran sejarah yang
sedang diberikan pada saat itu, mungkin misalnya mengadegankan kepahlawanan
Diponegoro saat ditangkap Jendral De Kock sebagai bentuk ekspresi dari tragedi.
Dalam kegiatan seperti ini kelas akan ditangani oleh dua guru sekaligus.
Pembelajaran dengan pola pengajaran tim (team teaching) berdasar tema bukan
rumpun dan bersifat sementara.
Dengan
pola seperti ini siswa akan mendapat dua nilai sekaligus dalam satu kegiatan
pembelajaran, yaitu mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dan mata
pelajaran yang dipadukan materinya, dalam dua contoh di atas disebutkan mata
pelajaran Sejarah dan Pendidikan Moral, dan ini tidak menutup kerjasama dengan
yang lainnya. Mengingat begitu banyaknya Kompetensi Dasar yang harus dicapai
oleh siswa dalam satu tahun pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.
Diharapkan
bahwa dengan cara ini, efesiensi waktu pembelajaran juga bisa diperoleh dengan
kegiatan ini. Beban siswa terhadap standart kompetensi yang disusun dalam
silabus masing-masing guru mata pelajaran bisa terpenuhi dengan tidak terlalu
banyak pengulangan. Mengadakan kegiatan yang melibatkan siswa secara aktif ini
akan meningkatkan kompetensi siswa dalam sastra tanpa harus menambah rasa
kebosanan mereka dan sekaligus membuat pengajaran bahasa dan sastra Indonesia
menjadi lebih menarik dan meningkatkan daya kreasi siswa.
Sastra tak
bisa dan tak perlu diajarkan. Yang bisa dilakukan oleh seorang guru sastra
dalam mengajar adalah mengajak anak didiknya untuk melihat kemanfaatan sastra.
Memposisikan sastra sedemikian rupa pada tempatnya yang tepat sehingga jelas
kaitannya, relevansinya dengan kehidupan dan proses pembelajaran. Dengan lain
kata, seorang guru sastra berdiri di depan kelas di hadapan murid-muridnya,
bagaikan seorang pembela di dalam sebuah peristiwa pengadilan, untuk
membuktikan, untuk menunjukkan, bahwa sastra adalah ilmu.
Mengajarkan
sastra tidak boleh dimulai dengan sastra itu sendiri, tetapi siapa yang akan
mempelajarinya. Lingkungan, latar belakang dan kebutuhan mereka yang hendak
diberikan pelajaran sastra, tidak boleh kalah penting dari suara karya-karya
itu. Tidak seperti pelajaran sejarah, sastra bukanlah masa lalu, karenanya
harus mulai dari aksi-aksi yang nyata.
Kerucut
sistim pembelajaran yang mengajak guru memulai pelajaran sastra seperti
pelajaran sejarah sastra, sehingga harus mulai dengan menghapal apa itu pantun,
gurindam, soneta dan seloka, perlu dibalik total. Pelajaran sastra harus hidup,
dimulai dengan apa yang nyata di sekitar dalam lingkungan mereka yang diajar.
Sebuah
sajak, novel, lakon, cerpen, esei dan sebagainya hanya alat untuk menyampaikan/
mengekspresikan gagasan dari penulisnya/pengarangnya. Di balik cerita, di dalam
kata-kata ada rembukan dan kesaksian. Itulah yang harus ditontonkan kepada
mereka yang belajar sastra. Membaca karya sastra seperti menggali tambang
mengeruk, memburu makna-makna yang bersembunyi di balik kata-kata.
BAB IV PENUTUP
A.
Kesimpulan
Pembelajaran sastra sangatlah penting terlebih pada jenjang
Pendidikan Sekolah Dasar, karena di dalam pembelajaran sastra tersebut terdapat
beberapa aspek humaniora yang dapat mengasah kepekaan sosial, ketajaman watak,
serta dengan mempelajari sastra, seseorang dapat belajar bagaimana caranya
mengharagai karya-karya orang lain, karena pada dasarnya sastra dapat membantu
seseorang lebih memahami kehidupan dan menghargai nilai-nilai kemanusiaan
B.
Saran
Pembelajaran sastra dianggap tidaklah penting, karena pada
jenjang pendidikan umumnya lebih mengedepankan serta mementingkan pembelajaran
yang ilmiah dan bertehnologi. Padahal dengan adanya pembelajaran sastra dapat
turut berperan dalam pembentukan kepribadian, watak, dan sikap yang tentunya
akan lebih baik jika diterapkan sejak dini dalam tahapan jenjang Pendidikan Sekolah Dasar pada umumnya. Seharusnya Sastra
dapat dioptimalkan pembelajarannya sehingga dapat diapresiasikan dengan baik
DAFTAR PUSTAKA
Leroy, Diana. 2003. Soal-Soal dan Pembahasan UAN (Ujian
Akhir Nasional) Bahasa Indonesia SMP (Edisi Kedua). Jakarta:Erlangga.
Wijaya, Putu. 2011. Pengajaran Sastra.
http://sastra-indonesia.com/2011/03/pengajaran-sastra/. Diakses pada tanggal
20/12/2011 10:03
Wibisono, B Kunto. 2010. Pembelajaran Sastra Dorong Sikap
Kritis.
http://www.antaranews.com/berita/206353/pembelajaran-sastra-dorong-sikap-kritis.
Diakses pada tanggal 31/12/2011 7:47
Arif, Mohammad. 2008. Pembelajaran Sasta Secara Integratif.
http://re-searchengines.com/mohamad0708.html. Diakses pada tanggal 20/12/2011
9:53
Hamid, Mukhlis A. Pengajaran Sastra Indonesia Di Sekolah.
http://gemasastrin.wordpress.com/2007/04/20/pengajaran-sastra-indonesia-di-sekolah/.
Diakses pada tanggal 31/12/2011 7:42
Pembelajaran Sastra Indonesia di Sekolah. http://gurupembaharu.com/home/?p=9911.
Diakses pada tanggal 31/12/2011 8:03
Komentar
Posting Komentar