KONSEP DASAR MEDIA PEMBELAJARAN, SUMBER BELAJAR

Hari/Tanggal : Selasa,
Dosen Pengampu : Ria Ristiani S.Pd., M.Pd
A.
KONSEP DASAR
MEDIA PEMBELAJARAN
Pemanfaatan media pembelajaran dikaitkan
sangat erat dengan peningkatan kualitas pembelajaran yang diharapkan.
Pemanfaatan media pembelajaran oleh pendidik diharapkan dapat menciptakan
pengalaman belajar yang lebih bermakna, Memfasilitasi proses interaksi antara
peserta didik, sesama peserta didik dan peserta didik dengan ahli di bidang
ilmu yang releva di mana saja. Serta memperkaya pengalaman belajar mahasiswa.
Hal ini dipercaya mampu mengubah suasana belajar yang fasif menunggu, dan
pendidik sebagai sumber ilmu satu-satunya, Menjadi siswa aktif berdiskusi dan mencari
melalui beragam sumber belajar yang tersedia, sementara pendidik berperan
menjadi fasilitator yang sama-sama terlibat dalam proses belajar. Ketersediaan
akan aneka ragam media dan teknologi pembelajaran bermakna bukan hanya bagi
pendidik, tetapi juga bagi peserta didik, Karena media dan teknologi
pembelajaran dapat membantu peserta didik secara luwes untuk mencapai tujuan
belajarnya.
Pertanyaan yang sering muncul adalah: apakah
media sama dengan alat peraga? Ada dua pendapat tentang hal ini, yakni partama,
media dan alat peraga keduanya sama saja. Keduanya sama-sama mempermudah
penyampaian pesan dari sumber pesan kepada penerima pesan. Kedua, media dan
alat peraga adalah dua hal yang berbeda. Hal ini berkaitan dengan jalur
penyampaian pesan atau isi kurikulum kepada anak didik. Alat peraga merupakan
alat bantu bagi pengajar untuk menyampaikan pesan kepada anak didik. Dengan
demikian, tanpa alat peraga pun pembelajaran tetap dapat berlangsung. Media
merupakan saluran pesan dari sumber pesan kepada anak didik. Media dapat
digunakan secara mandiri oleh anak didik dan media merupakan bagian integral
pembelajaran. Artinya, tanpa adanya media, maka pembelajaran tidak dapat
berlangsung.

Gambar
3. 1
Pada gambar 3.1 seorang guru menyampaikan pesan A kepada empat
orang siswa. Dari empat orang siswa tersebut, hanya seorang yang menerima pesan
secara tepat, sedangkan tiga orang lainnya menerima pesan yang berbeda. Hal itu
menunjukkan bahwa proses komunikasi antara guru dan siswa mengalami kegagalan. Salah
satu cara untuk mengatasi faktor penghambat proses komunikasi tersebut adalah
media pembelajaran. Untuk itu pengetahuan tentang media pembelajaran sangat
penting untuk diketahui dan dipahami oleh semua orang yang langsung maupun tak
langsung berhubungan dengan pembelajaran.
Dalam proses komunikasi tersebut, tidak
selamanya berhasil karena sewaktu-waktu penafsiran terhadap isi pesan bisa
berhasil dan bisa juga gagal. Kegagalan tersebut disebabkan oleh adanya faktor
penghambat proses komunikasi, yang dikenal dengan istilah barriers atau noises.
Misalnya, perbedaan gaya belajar, minat, intelegensi, keterbatasan daya ingat,
cacat tubuh, hambatan jarak geografis, waktu, dan lain-lain.

Gambar 3.2
Gambar 1.1 menggambarkan proses komunikasi
yang berhasil. Sumber pesan menyampaikan pesan A kepada para siswa melalui
sebuah media atau melalui media dan guru. Keduanya berhasil menyampaikan pesan
A karena semua siswa menerima pesan A tersebut, persis sama dengan pesan A yang
disampaikan oleh sumber pesan.

Gambar 3.3
Pertanyaan yang sering muncul adalah: apakah
media sama dengan alat peraga? Ada dua pendapat tentang hal ini, yakni partama,
media dan alat peraga keduanya sama saja. Keduanya sama-sama mempermudah penyampaian
pesan dari sumber pesan kepada penerima pesan. Kedua, media dan alat peraga
adalah dua hal yang berbeda. Hal ini berkaitan dengan jalur penyampaian pesan
atau isi kurikulum kepada anak didik. Alat peraga merupakan alat bantu bagi
pengajar untuk menyampaikan pesan kepada anak didik. Dengan demikian, tanpa
alat peraga pun pembelajaran tetap dapat berlangsung. Media merupakan saluran pesan dari sumber
pesan kepada anak didik. Media dapat digunakan secara mandiri oleh anak didik
dan media merupakan bagian integral pembelajaran. Artinya, tanpa adanya media,
maka pembelajaran tidak dapat berlangsung.
Media yang menyajikan pesan-pesan terkait
dengan tujuan pembelajaran disebut dengan media pembelajaran (Smaldino, 2005:
09). Leshin, Pollock, & Reigeluth dalam Azhar Arsyad (2007: 36)
mengklasifikasi media ke dalam lima kelompok, yaitu (1) media berbasis manusia
(guru, instruktor, tutor, main-peran, kegiatan kelompok, field-trip), (2) media
berbasis cetak (buku, buku penuntun, buku latihan, alat bantu kerja, lembaran
lepas), (3) media berbasis visual (buku, alat bantu kerja, bagan, grafik, peta,
tranparansi, slide), (4) media berbasis audio-visual (video, film, program
slide-tape, televisi), (5) media berbasis komputer (pengajaran dengan bantuan
komputer, interaktif video, hypertext).
Perlu anda cermati dalam beberapa hal media
dapat menjadi komponen sumber belajar atau wahana fisik yang mengandung materi
instruksional yang dapat merangsang siswa untuk belajar. Pengertian ini
mengandung makna bahwa media merupakan komponen sumber belajar atau wahana
fisik yang mengandung materi instruksional di lingkungan siswa yang dapat
menarik perhatian siswa untuk belajar.
B.
SUMBER
BELAJAR
Dalam usaha meningkatkan kualitas proses pembelajaran
dan hasil pembelajaran, guru tidak boleh melupakan satu hal yang sudah pasti
kebenarannya yaitu bahwa peserta didik atau siswa harus diupayakan untuk banyak
berinteraksi dengan sumber belajar. Tanpa sumber belajar yang memadai sulit diwujudkan
proses pembelajaran yang mengarah kepada tercapainya hasil belajar yang
optimal. Namun demikian sebelum kita membahas topik ini lebih lanjut perlu
diketahui, apa sebenarnya sumber belajar itu?, mengapa hal ini penting dibahas,
karena dalam banyak kesempatan sering dijumpai bahwa seseorang memaknai sumber
belajar hanya guru dan buku.
AECT (1977) mengartikan sumber belajar
sebagai semua sumber (data, manusia, dan barang) yang dapat dipakai oleh
pelajar sebagai suatu sumber tersendiri atau dalam kombinasi untuk memperlancar
belajar. Dalam hal ini sumber belajar meliputi pesan, orang, material, alat,
teknik, dan lingkungan. Sumber belajar bahkan berubah menjadi komponen sistem
instruksional apabila sumber belajar itu diatur sebelumnya (prestructured),
didesain dan dipilih lalu dikombinasikan menjadi suatu sistem instruksional
yang lengkap sehingga berdampak pada pembelajaran yang bertujuan dan
terkontrol.
Dengan ungkapan sederhana, sumber belajar dapat merujuk pada
sumber apapun yang digunakan oleh pendidik dan peserta didik untuk tujuan
pembelajaran (Centre for Educational
Research and Innovation, 2009:32). Drotner (2006: 23) menyebut bahwa terma
“sumber belajar“ sebetulnya menegaskan bahwa ia merupakan tujuan dan konteks
pembelajaran yang menentukan apakah sebuah sumber merupakan sumber belajar atau
tidak, bukan teknologi itu sendiri. Oleh karena itu, fungsi utama dari sumber
belajar adalah mempermudah kegiatan belajar dan meningkatkan kinerja dalam
konteks pengajaran dam pembelajaran.
Tiap-tiap bentuk sumber belajar tersebut
harus berinteraksi dengan siswa bila menginginkan kualitas dan hasil belajar
yang optimal, sebab unsur sumber-sumber belajar itu merupakan komponen usaha
yang dapat mendukung proses belajar dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran
yang optimal, maka perlu kiranya ada organisasi pengelolaannya. Dan mengingat
kenyatan yang ada bahwa keterbatasan dana dan tenaga yang mendukung
sumber-sumber belajar itu juga dipandang perlu adaya suatu strategi pengelolaan
yang efektif dan efisien.
Jika kita tinjau dari pemanfaatannya sumber
belajar terbagi menjadi dua yaitu sumber belajar yang didesain (by design) dan
sumber belajar yang tinggal pakai/dimanfaatkan (by utilitation).
Sumber
belajar yang didesain (by design)
Sumber belajar yang di desain merupakan
sumber-sumber belajar yang secara khusus di kembangkan sebagai “komponan sistem
instruksional” yang diharapkan dapat membantu kemudahan kegiatan belajar yang
bersifat formal ataupun non formal dan mempunyai tujuan tertentu. Dengan
demikian sumber belajar jenis ini harus dianalisis, direncanakan, dan kemudian
baru dikembangkan sesuai dengan kebutuhan tujuan dan materi serta karateristik
si belajar/siswa agar hasilnya benar-benar dapat memudahkan belajar.
Sumber
belajar yang dimanfaatkan (by utilization)
Sumber belajar yang tinggal dimanfaatkan
yaitu sumber-sumber yang tidak secara khusus didesain untuk keperluan
pembelajaran namun dapat di temukan, diterapkan, dan digunakan untuk keperluan
belajar.
Dari beberapa definisi dan penjelasan tentang
teknologi instruksional dapat kita ambil beberapa kesimpulan; bahwa teknologi
instruksional menghasilkan sumber belajar yang dapat digunakan untuk
memperbaiki pengajaran. Terdapat fungsi-fungsi tertentu, misalnya pengembangan
instruksional, produksi media, pengelolaan sumber belajar, penilaian program,
dan sebagainya yang harus dijalankan oleh tenaga-tenaga tertentu dalam bidang
teknologi instruksional.

Gambar 3.4
Dalam sebuah buku yang berjudul Instructional
Technologis: The
Definition and omains of the Field, AECT membedakan enam jenis sumber
belajar yang digunakan dalam proses pembelajaran, seperti pada Gambar 3, yaitu:
1.
Pesan (Message)
Pesan atau materi baik formal
maupun informal dapat dimanfaatkan sebagai bahan atau sumber belajar. Pesan
formal adalah pesan dan informasi yang dikeluarkan oleh lembaga resmi seperti
pemerintah dan non pemerintah atau yang diberikan guru dalam situasi pembelajaran.
Pesan non formal dapat digunakan sebagai sumber atau bahan pembelajaran yaitu
pesan yang terdapat di lingkungan sekitar atau yang ada di masyarakat luas
misalnya cerita rakyat, legenda, prasasti dan relief pada candi termasuk pesan
dan informasi teks pada buku, modul, dan lain-lain.
2.
Orang (People)
Setiap orang dapat berperan sebagai
sumber belajar dan bahan pembelajaran karena dari seseorang kita dapat
memperoleh informasi dan pengetahuan baru. Secara umum, orang dapat dibagi
menjadi dua kelompok:
Kelompok orang yang didesain khusus
sebagai sumber belajar utama yang dididik secara professional untuk menjadi
pengajar. Tugas utamanya adalah mengajar, memberikan bimbingan dan pelatihan,
seperti guru, instruktur dan widyaiswara. Termasuk kepala sekolah, laboran,
tehnik sumber belajar, pustakawan, dan lain-lain.
Kelompok orang yang memiliki
profesi selain tenaga yang berada di lingkungan pendidikan dan profesinya tidak
terbatas. Misalnya pedagang, politisi, tenaga kesehatan, petani, arsitek,
psikolog, polisi, pengusaha, tokoh masyarakat, pemuka agama, budayawan, dan
lain-lain.
3.
Bahan dan Program
Bahan dan Program aplikasi
merupakan suatu format yang biasannya digunakan sebagai program pendukung dalam
menyimpan pesan-pesan pembelajaran seperti buku paket, teks, handbook, modul, program video, audio,
film, OHT (Over
Head Transparancy),
program slide, alat peraga, dan sebagainnya. Program disini yang dimaksudkan
ialah yang berupa software.
4.
Alat (Device)
Alat yang dimaksud disini ialah
benda-benda yang berbentuk fisik sering disebut juga dengan perangkat keras
(hardware) yang berfungsi sebagai sarana atau alat bantu untuk
menyajikan bahan-bahan ketiga point
yang sudah disebutkan sebelumnya. Berbagai macam peralatan ini dapat dijadikan
sebagai bahan-bahan atau sumber pembelajaran. Misalnya, multimedia, projector,
slide projector, OHP, film, tape recorder, dan sebagainnya.
5.
Metode (Method)
Metode ialah cara atau
langkah-langkah yang digunakan dalam pembelajaran, cara penyampaian materi
pembelajaran kepada pembelajar atau siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran
yang diharapkan. Beberapa metode pembelajaran yang sering digunakan oleh guru
antara lain, demonstrasi, diskusi, ekspositori atau ceramah, permainan atau
simulasi, tanya jawab, sosiodrama, praktikum dan sebagainnya.
6.
Latar (Setting)
Latar (setting) lingkungan ialah situasi dan
kondisi lingkungan belajar baik yang berada disekolah maupun lingkungan yang
berada diluar sekolah, baik yang sengaja dirancang maupun yang secara khusus
disiapkan, yang dapat digunakan oleh guru dalam
pembelajaran. Yang termasuk latar
atau setting ini ialah pengaturan ruang, pencahayaan, ruang kelas,
perpustakaan, laboratorium, tempat workshop, halaman sekolah, kebun sekolah,
lapangan sekolah, lingkungan alam sekitar yang dijadikan tempat pembelajaran
dan sebagainnya. Sumber-sumber belajar yang diuraikan diatas, merupakan
komponen-komponen yang dapat dimanfaatkan oleh pembelajar dalam proses
pembelajaran.
C.
PERAN MEDIA DALAM PEMBELAJARAN
Dalam
pembelajaran (instructional), sumber informasi adalah dosen, guru, instruktur,
peserta didik, bahan bacaan dan sebagainya. Menurut Schramm (1977), media
pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan (informasi) yang dapat dimanfaatkan
untuk keperluan pembelajaran. Briggs (1977) mendifinisikan media pembelajaran
sebagai sarana fisik untuk menyampaikan isi / materi pembelajaran. Sedang
menurut Arief S. Sadiman (1986) media pembelajaran adalah segala sesuatu yang
dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima, sehingga
dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa sehingga proses
belajar terjadi.
Proses
pembelajaran pada hakikatnya adalah proses komunikasi, yaitu proses penyampaian
pesan dari sumber pesan ke penerima pesan. Pesan tersebut berupa isi atau
materi ajar yang ada dalam kurikulum yang dituangkan oleh guru atau sumber lain
ke dalam simbol-simbol komunikasi. Simbol-simbol komunikasi berupa
simbol-simbol verbal (kata-kata lisan ataupun tertulis) dan/atau simbol-simbol
non-verbal atau visual.
Proses
penuangan pesan ke dalam simbol-simbol komunikasi itu dinamakan encoding. Selanjutnya penerima pesan
menafsirkan simbol-simbol komunikasi tersebut, sehingga penerima pesan
memperoleh pesan. Proses penafsiran simbol simbol komunikasi yang mengandung
pesan-pesan tersebut dinamakan decoding.
Adapun
penjabarannya dapat dilihat pada
pemamaparan berikut:
1. Peranan
Media Pembelajaran
Ada beberapa
peranan media pembelajaran menurut Ahmad Rohani (1997), diantaranya adalah:
Media pembelajaran
mengatasi perbedaan pengalaman pribadi peserta didik.
Media pembelajaran mengatasi batas-batas ruang
kelas.
Mengamati benda yang terlalu kecil.
Mengamati benda yang bergerak terlalu cepat
atau terlalu lambat.
Mengamati suara yang halus untuk didengar.
Mengamati peristiwa-peristiwa alam.
Media
pembelajaran berperan membangkitkan minat belajar yang baru.
Dari paparan
di atas dapat diketahui bahwa media pembelajaran berperan untuk membantu
mewujudkan tujuan pembelajaran. Media pembelajaran dapat mengatasi
permasalahan-permasalahan yang menyangkut pembelajaran. Hal ini sejalan dengan
pernyataan Nana Sudjana (2005) bahwa media pembelajaran berperan untuk
mengatasi kesulitan proses pembelajaran.
2. Peranan
Sumber Belajar
Sama halnya
seperti media pembelajaran, sumber belajar juga memiliki peranan, diantaranya
adalah sebagai berikut:
Menjembatani anak atau siswa dalam memperoleh
pengetahuan (belajar).
Mentransmisi rangsangan atau informasi kepada
anak atau siswa (ungkapan transmisi dalam konteks ini mempunyai dimensi banyak
dan dapat dikaitkan dengan pertanyaan-pertanyaan “apa, siapa, di mana, dan
bagaimana”; pertanyaan-pertanyaan ini amat berguna sebagai alat bantu
mengorganisasi dimensi sumber belajar.
Media sangat berperan dalam komunikasi dan pendidikan. Dalam
komunikasi, media dapat berperan sebagai sumber informasi, informasi itu
sendiri, dan penerima informasi. Pengajaran dengan menggunakan televisi, dapat
dikatakan bahwa media televisi merupakan sumber informasi; sedangkan pada penyuluhan,
media merupakan informasi, dan radio penerima dapat disebut sebagai alat
penerima informasi. Dalam pendidikan,
media berfungsi sebagai sarana fisik penyampaian materi, dan pembawa pesan.
Dengan demikian media pembelajaran merupakan alat pengajaran yang digunakan
untuk untuk membantu menyampaikan materi pelajaran dalam proses belajar
mengajar sehingga memudahkan pencapaian tujuan tujuan pembelajaran yang sudah
dirumuskan.
Media
dalam kegiatan instruksional dapat digunakan, karena mempunyai kemampuan,
diantaranya :
1. Memperbesar benda yang sangat kecil dan
tidak nampak oleh mata menjadi lebih besar, seperti penggunaan film tentang
perkembangan suatu kuman,
2. Menyajikan benda atau peristiwa yang
terletak jauh dari mahasiswa ke hadapan mahasiswa, seperti program video
tentang meletusnya gunung berapi,
3. Menyajikan peristiwa yang kompleks dan
berlangsung dengan cepat atau sangat lambat menjadi lebih sederhana, seperti
terjadinya gol dalam permainan sepak bola,
4. Menampung sejumlah besar mahasiswa untuk
mempelajari materi pengajaran dalam waktu yang sama, seperti penggunaan program
televisi dalam pembedahan jantung,
5. Menyajikan benda atau peristiwa
berbahaya ke hadapan mahasiswa, seperti penggunaan slide tentang angin topan,
6. Meningkatkan daya tarik pelajaran atau
perhatian mahasiswa, seperti penggunaan warna pada OHT,
7.
Meningkatkan
sistematika pengajaran, seperti penggunaan transparansi.
Komentar
Posting Komentar